Oemasi,www.kudamau.com, -Konven Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Teritori Kupang Daratan dan Semau (Kudasemau) selama tiga hari telah telah berakhir. Kegiatan berlangsung dari tanggal 22-24 September 2026. Kegiatan dilaksanakan di Nekamese Eco Park atau Sekolah Lapangan Nekamese Desa Oemasi Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang. Kegiatan diikuti oleh para pendeta GMIT yang melayani di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang. Dalam wilayah ini terdapat 17 klasis. (3 Kota Kupang dan 14 di Kabupaten Kupang).
Konven ditutup oleh Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Saneb Blegur. Dalam suara gembala ia menyebut bahwa konven ini dijeda cukup lama setelah kegiatan di Maumere dan Soe. terdapat masukan untuk berkonven lagi supaya saling mengenal. Sebab jumlah pendeta GMIT sudah mendekati angka 2000 orang akan sulit untuk saling mengenal. Saat ini sekitar 1600 orang pendeta GMIT. “Angka ini ada harapan dan kecemasan. Kalau kita mau melihat dari sisi kecemasan, maka jumlah yang banyak ini membawa pergumulan yang banyak juga. Dengan jumlah karyawan yang banyak dan pesekutuan seperti ini tidak dibangun, jangan salah persekutuan kita bisa digerogori, bukan saja oleh jemaat tetapi juga oleh sesama pelayan.” ujarnya.

Kata-kata penutupan oleh Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT dan pemulan gong oleh Bupati Kupang (doc. Humpudokonven)
Pdt. Saneb menyampaikan berlimpah terima kasih kepada rekan-rekan sepelayanan di Kupang Daratan dan Semau. Baginya ini bukan sekedar program pelayanan, tetapi mencoba menjawab tantangan pelayanan gereja. “Kalau pernah mengeluh tentang pelayanan dan buang di media sosial, maka sementara membuang di tempat yang tidak tepat. Di tempat yang salah, konteks yang salah dan ruang yang salah. Media sosial bukan ruang pemulihan batin, spiritual tetapi ruang pertempuran, peperangan, mempermalukan diri, menelanjangi diri. Konven ini ruang untuk bertemu dan berbagi cerita. Ada komitmen yang dibangun untuk menjaga rumah yang memberikan kenyamanan. Semua disediakan di dalam rumah kita. Mana mungkin kita menelanjangi rumah sendiri. Saya mau bertanya, kira-kira curhat su selesai ko balom? Konven ini membawa resolusi baru: Seorang pendeta GMIT menghargai wibawa lembaga, junjung tinggi wibawa lembaga tempat di mana ia memuliakan nama Tuhan,” urainya.
Ia mengingatkan bahwa di tahun 2028 GMIT akan mengalami surplus (kelebihan) pendeta. Maka ia berharap adanya amandemen (perubahan) tata dasar GMIT di tahun 2032yang dapat membuka ruang untuk membangun ruang wilayah pelayanan secara luas, bukan lagi hanya di jemaat. Hal ini terjadi supaya bisa mengurai tata pelayanan yang lebih luas. Ia menyebut bahwa jemaat bukan saja satu-satunya ruang pelayanan, tetapi dapat melalui membangun yayasan atau komunitas untuk pelayanan anak-anak jalanan atau hal lainnya. Para pendeta itu tetap diangkat sebagai karyawan GMIT. Atau pengkhotbah yang seperti Pdt. Yandi Manobe yang ditugaskan khusus.
Ia juga menyebut tentang salah satu hasil persidangan di Sabu tahun 2023 tentang grand design GMIT. Setelah 2032, grand design memberi patokan bahwa yang akan memjadi Ketua Majelis Jemaat adalah mereka yang telah melewati studi pangembangan panggilan 1 dan 2, karena di bangku kuliah tidak pernah belajar ilmu kepemimpinan dan organisasi. Bagi yang akan duduk di lingkup menengah (Ketua Majelis Klasis), harus lolos studi pengembangan panggilan 2 dan 4. Dan di level yang paling luas, menduduki posisi majelis sinode, telah lolos studi pengembangan panggilan 5 dan 6. Baginya ini membantu untuk mengurai pergumulan gereja.
Pdt. Saneb menegaskan bahwa GMIT yang telah berdiri sejak 1947 sampai hari ini dan akan tetap berdiri dan terus melangkah memberitakan Injil Kristus karena punya sistem yang kuat, alat pelayanan dan hamba Tuhan yang luar biasa. Komitmen terus berjalan sekalipun tantangan dunia semakin menggerus.
Ia bersyukur atas kebersamaan selama konven. Tetapi baginya konven sesungguhnya akan dilakukan setelah selesai kegiatan. Di situlah tantangan untuk membangun persekutuan, membangun komunikasi yang baik, saling berinteraksi untuk menjaga kebersamaan pelayanan.
Sementara itu Koordinator Teritori Kudasemau Pdt. Delvy Snae menyampaikan segala kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus, Pemilik dan Kepala gereja yang telah menyertai selama persiapan sampai akhir konven. Ia mengingat konven pertama tahun 2014 di Maumere dan Soe. Semua berharap kegiatan seperti itu terjadi lagi. Maka ia berterima kasih kepada Majelis Sinode Harian GMIT yang selama masa kepemimpinan mengembalikan semua tentang konven ke teritori-teritori. Secara khusus ia menyampaikan terima kasih kepada pemeritah Kabupaten Kupang Bapak Bupati Yos Lede dan semua di parlemen untuk segala dukungn. “Dalam waktu 4 bulan ini dengan segala persiapan yang ada kami terbantu melalui dukungan dari bapa bupati secara kelembagaan dan pribadi.” ujarnya. Ia juga berterima kasih kepada Pdt. Doddy Octavianus dan Majelis Klasis Kupang Barat dan tim pelayanan dengan kerja-kerja hebat yang luar biasa.

Suara hati para KMK Teritori Kudasemau diwakilkannoleh Pdt. Delvy Snae (doc. Ansel)
Pdt. Delvy yang adalah Ketua Majelis Klasis Kota Kupang ini menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak terutama kepada semua peserta konven. “Sepanjang konven kami bergumul dengan format yang pas. Mengakomodir 630 orang di satu tempat itu tidak mudah. Kami mau semua terkonstrasi di sini. Tetapi gempa di Flores membuat ada perubahan rencana sehingga akomodasi terbagi menajdi 3 tempat.” urainya. Ia juga menyampaikan kekurangan pada isian atau materi utama yang seharusnya bisa menjawb kebutuhan. “Ternyata sewaktu Wakil Ketua MS bertanya su selesai curhat? Hal ini membuat kami tahu dan sadar benar, dinamika kita di hari kemarin belum menjawab kebutuhan. Ini menjadi pelajaran berharga untuk mendisain kebutuhan konven sesuai keadaan para pendeta,” paparnya.
Ia berharap konven seperti ini menjadi agenda tetap. Baginay konven ini hanya mengambil dan memberi sebagaian kecil energi pelayanan di tahun 2027 untuk bersemangat bersidang di jemaat, klasis dan sinode.
Baginya terima kasih yang paling istimewa ditujukan kepada semua pendeta. “Tanpa kehadiran para pendeta, konven menjadi sia-sia. Menarik diri itu penting. Dua hal dari kesehatan mental adalah pertama, berani berkata maaf saya tidak bisa. Kadang kita menjadi pendeta yang malu hati atau merasa bisa dalam segala hal dan kedua, berani mengambil keputusan untuk memberi kepercayaan kepada pendeta-pendeta yang lain, pendeta emiritus dan para penatua,” ujarnya.
Penutupan diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Yosep Anderias Manobe (Pdt. Yandi). Ibadah dan rangkaian acara penutupan diikuti oleh Bupati Kupang Yosep Lede dan segenap Organisasi Perangkat Daerah dan undangan lainnya.
#konvenKudasemauPdtGMIT
.f *Pdt. yft hb
